Alamat admin

Perum. Trias Estate BloK E Cibitung - Email : imalhajj@gmail.com

Kamis, 25 April 2013

PERJALANAN SPIRITUAL MENUJU MA'RIFATULLAH


Tahap pertama yang harus kita lakukan untuk mencapai derajat ma’rifatul Dzat adalah menetapkan niat atau tujuan bahwasannya semua amalan yang kita lakukan karena Alloh dan hanya mengharapkan ampunan serta ridho-Nya. Selanjutnya untuk memurnikan tujuan tersebut adalah mencari ulama ahladz-dzikri yang sudah bisa kembali kepada Alloh dan berderajat waliyuloh agar semua amalan yang kita lakukan didasari oleh hati ikhlas, yakni hati yang selalu berdzikir kepada Alloh. Apabila sudah menemukan ulama tersebut tahap selanjutnya adalah minta diberikan petunjuk atau jalan menuju Alloh melalui metode dzikrulloh sesuai tuntunan Rasululloh SAW, disebut juga talqin dzikir. Dan adalah Nabi SAW mentalqinkan kalimah thoyyibah ini kepada sahabat-sahabat r.a. untuk menjernihkan hati mereka dan mensucikan jiwa mereka agar mereka bisa sampai kepada Alloh (HR Syadad bin Aos, Thabrani, Ahmad Yusuf Kaorani).

Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa dzikrulloh ada dua macam, yaitu dzikir jahar (diucapkan dengan lisan) dan dzikir khofi (diucapkan dalam hati tanpa kata tanpa suara). Perintah dzikrulloh sudah jelas terpateri di dalam Al-Qur’an, adapun metode pengamalannya disyariatkan oleh Rasululloh SAW. Hadits tentang dzikir jahar dengan kalimah Laa ilahaa illalloh dan metode amaliahnya diuraikan di atas (HR Imam Ahmad dan Tabrani, lihat di atas). Satu lagi yang diriwayatkan oleh Syadad bin Aos: Kami semua dengan para sahabat berada di dalam masjid. Tak lama kemudian datang Rasululloh SAW, sabdanya: apakah dalam kumpulan ini ada orang asing? (maksudnya ahli kitab). Setelah dijawab tidak ada, selanjutnya Nabi memerintahkan menutup pintu dan bersabda: Angkatlah kedua tangan kalian dan ucapkan oleh kalian ‘Laa ilahaa illalloh’. Lalu para sahabat mengucapkan kalimah tersebut bersama-sama. Selanjutnya Nabi berdo’a….

Metode berdzikir khofi pertama kali ditalqinkan kepada Abu Bakar As-Siddiq r.a. ketika Nabi SAW dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur saat dikejar oleh orang-orag kafir. Ketika itu Abu Bakar r.a. gemetar karena takut persembunyiannya diketahui oleh orang-orang kafir. Abu Bakar r.a berkata: Ya Rasululloh, mohon Anda memberi petunjuk agar hati hamba tentram tidak takut dan bimbang seperti ini. Nabi bersabda: Ucapkanlah olehmu Ismu Dzat. Bagaimana cara mengucapkan dzikir itu Ya Rasululloh? Nabi bersabda: Harus ingat kamu kepada Rabmu di dalam hati dengan merendah diri, merasa malu, dan takut, tidak usah diucapkan dengan lisan, cukup dengan getarnya hati dan detaknya jantung. Cara berdzikir seperti itu harus dari pagi sampai petang serta ingat terus jangan ada lupanya. Bagaimana kalau lupa Ya Rasululloh? Rasul menjawab: Jika kamu lupa dari dzikir itu, maka lekas ingat/dzikir kembali. (lupa… ingatkan lagi, putus … sambungkan lagi, demikian seterusnya), cara ini berlaku bagi kita yang sedang belajar dzikrulloh karena banyak lupa daripada ingatnya.

Cepat atau lambat seorang hamba mencapai derajat tertentu dalam taqorub kepada Alloh bergantung pada ketekunan dalam mengamalkan dzikir dan amalan-amalan sholeh lainnya seperti taubat, sholat malam, puasa sunnah, infaq/sodaqoh, membantu sesama, dan amalan lainnya. Selain bergantung dari usaha kita, yang lebih menentukan adalah kehendak Alloh Azza wa Jalla. Jika Alloh menghendaki apapun pasti terjadi. Kemudian hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras dari batu. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya dan diantaranya ada juga yang meluncur jatuh (QS Al-Baqarah:74). Makna ayat ini menyatakan kepada kita bahwa diantara sebagian hamba-Nya ada yang hatinya mudah luluh, ada juga yang langsung terbuka hijabnya hingga mencapai derajat tinggi. Tetapi ada juga yang atung eneh .. atung eneh (sunda) alias tidak maju-maju karena malas.

Apabila seorang hamba telah menjalankan perintah Alloh dan Rasul-Nya melalui bimbingan waliyulloh yang rasyidin (guru mursyid), yakni amalan-amalan sholeh yang dilandasi dzikrulloh dengan istiqomah, maka atas kehendak dan izin Alloh akan terbuka hijab yang menutupi qolbunya sehingga tabir yang selama ini menyelimutinya akan terbuka. Jika hijab sudah terbuka maka akan terpancar Nur Illahi dari dalam qolbu dan akan menyaksikan bahwa ruh kita berdzikir kepada Alloh dengan sendirinya atau autodzikrulloh. Pada tataran ini hamba tersebut sudah mencapai ma’rifatul Asma, dimana lisannya berdzikir jahar, qolbunya berdzikir khofi, dan ruhnya berdzikir sirr. Sifat ketiga jenis dzikir itu adalah dzikir jahar terikat ruang dan waktu dan sangat dekat dengan riya’, dzikir khofi bebas ruang dan waktu tetapi terikat dengan sifat lupa, sedangkan dzikir sirr adalah dzikir ruh yang bebas ruang dan waktu maupun lupa, bahkan dalam keadaan tidurpun ruh tetap berdzikir kepada Alloh (badan turu, ati tangi, roh mandep manjing Alloh).

Berdzikir seperti di atas dapat dianalogikan dengan bola lampu listrik, dimana qolbu adalah bola lampunya, sedangkan ruh adalah kawat wolframnya. Bola lampu listrik tidak akan tampak terang jika kacanya diselubungi oleh kotoran dan tidak akan nyala jika tidak dihubungkan dengan sumber listrik. Demikian pula dengan qolbu kita, apabila tidak ada penghubung antara hakikat kehambaan dan hakikat ketuhanan, maka ruh tidak akan hidup (dalam arti tidak dapat berdzikrulloh dengan sendirinya). Apa penghubungnya? Sebagai kabel penghubung adalah dzikir khofi sebagaimana dinyatakan dalam hadits qudsi: Jika ia ingat kepada-Ku di dalam hatinya, Aku pun ingat pula kepadanya di dalam hati-Ku (lihat di atas). Jika sudah terhubung dengan Tuhannya, maka ruh kita akan hidup alias berdzikir sirr tanpa batas. Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir seperti orang hidup di antara orang mati (HR Thabrani). Darimanakah sumber energi listriknya? Sumbernya adalah kalimah Laa ilahaa illalloh melalui tajjaliyyah Alloh Al-kamil, yakni perpaduan Al-Jamil (kutub negatif) dan Al-Jalil (kutub positif). Sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi: Manusia adalah sirr-Ku dan Aku adalah sirrnya.

Adapun dzikir jahar Laa ilahaa illalloh disamping sebagai sumber energi juga berperan untuk membersihkan kotoran yang menutupi kaca bola lampu atau membersihkan qolbu dari noda dan dosa yang dilakukan setiap hari hingga menutupi qolbu dan menjadi keras.Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya kalimah Laa ilahaa illalloh itu mendatangkan pengampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang mu’min laki-laki dan perempuan (QS Muhammad:19). Dengan kata lain, kalimah Laa ilahaa illalloh adalah kunci untuk membuka pintu hati sehingga hijab yang menutupi qolbu menjadi terbuka dan pandangannya dapat menembus ‘Arasy selama menjauhi dosa besar (lihat di atas). Fenomena di atas diungkapkan juga oleh Imam Al-Gazaly: bukalah pintu hatimu dengan kunci kalimah Laa ilahaa illalloh (dzikir jahar) dan bukalah pintu ruhmu dengan dzikir khofi, dan pikatlah burung rahasiamu dengan dzikir sirr.

Intensitas dan frekuensi cahaya dalam qolbu bergantung pada ketekunan dan keistiqomahan dalam mengamalkan dzikrulloh. Bagaimana ruh kita akan mampu berdzikir dengan sendirinya (autodzikrulloh) apabila tidak dibukakan pintu ruhnya dengan berdzikir khofi, demikian juga terangnya tidak akan tampak apabila pintu qolbunya tidak dibuka terlebih dulu dengan kunci kalimah Laa ilahaa illalloh yang dijaharkan dan terhujam hingga ke dalam qolbu dalam mengamalkannya. Inilah yang disebut dengan nur dzikir yang diungkapkan dalam hadits Bukhari (lihat di atas). Dengan memperbanyak dzikir jahar dan dzikir khofi maka intensitas dan frekuensi cahaya qolbu makin besar hingga cahayanya makin terang dan di akhirat kelak tidak perlu dicuci lagi di neraka (lihat di atas) karena qolbunya sudah bening sebening kaca dan kilaunya seindah mutiara seperti bintang di langit.

Jika hamba tersebut istiqomah di jalan yang lurus yakni jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Alloh Maha Rahman (QS Al-Fatihah: 7) dan ketetapan hatinya semakin teguh kepada Alloh Azza wa Jalla, maka Alloh akan menaikkan hamba tersebut ke derajat lebih tinggi hingga ke Sidratul Muntaha dan berada di bawah naungan Arasy’-Nya (lihat di atas). Umat muslim yang sudah sampai ke derajat ini adalah para Khulafa Ar-Rasyidin, para Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan Ulama ahladz-dzikri Laa ilahaa illalloh. Mereka semua adalah waliyuloh, yakni para kekasih Alloh Azza wa Jalla.

Apabila seorang salik telah dibukakan hijabnya oleh Alloh dan istiqomah di jalan lurus menuju Alloh, maka atas kehendak dan izin-Nya, hamba tersebut akan dinaikkan ke langit pertama. Di langit ini terdapat surga yang derjatnya paling rendah, hamba tersebut akan menjadi penghuninya dan qolbunya akan menerima Nur Illahi dengan frekuensi sesuai cahaya surga itu.

Apabila hamba yang sudah terbuka hijabnya itu tetap setia dan tunduk pada ketentuan Alloh, maka Alloh akan menaikkan lagi hamba tersebut ke langit kedua, yakni dimensi kesetiaan. Di langit ini terdapat surga Darul Qarar dan hamba tersebut akan menjadi penghuninya sebagai balasan atas kesetiaan pada ketentuan Alloh dan qolbunya akan menerima Nur Illahi dengan frekuensi lebih tinggi dari surga pertama.

Apabila hamba itu teguh di jalan lurus dan qolbunya tidak henti-hentinya berdzikrulloh (dzikir yang langgeng), maka Alloh akan menaikkan lagi ke langit ketiga, yakni dimensi keabadian sebagai balasan atas keistiqomahan dalam beribadah dan dzikir yang langgeng. Dia akan menghuni surga Darul Khulud dan qolbunya akan menerima Nur Illahi keabadian dengan cahaya sangat indah. Keindahannya akan terpancar hingga ke wajahnya, siapapun orang yang melihat wajah hamba ini akan terpesona dan tidak bosan dipandang mata, sebagaimana Zulaikha terpesona oleh ketampanan Nabi Yusuf AS.

Apabila perjalanan spiritual hamba tersebut sudah memasuki bentengnya Alloh dimana qolbunya diliputi Nur Laa ilahaa illalloh karena keikhlasannya, maka akan dinaikkan lagi ke langit keempat. Ingat!! Kalimah Laa ilahaa illalloh adalah benteng-Ku. Barangsiapa yang memasuki benteng-Ku, ia aman dari siksa-Ku. Langit keempat ini disebut juga alam Mulki, dimana terdapat surga Ma’wa yang hanya diperuntukkan bagi hamba-hamba Alloh yang muklis. Di surga ini qolbu yang muklis akan menerima Nur Illahi sebagai pelindung dari gangguan Iblis atas keikhlasannya terhadap ketentuan Alloh yang menjadi taqdirnya. Jarak yang ditempuh menuju alam ini sekira lima ratus ribu tahun cahaya, suatu perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan. Tanpa kasih sayang-Nya, tidak akan ada umat muslim yang dapat mencapai alam ini, karena begitu sulitnya untuk menjadi orang yang ikhlas (muklis), yakni orang yang selalu menjaga hatinya untuk tidak berpaling selain kepada Alloh semata.

Di langit kelima terdapat surga Na’im. Langit kelima disebut juga alam Jabarut. Bagi hamba Alloh yang mencapai derajat ini akan memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki, yang tidak akan pernah ditemukan di dunia ini. Sedangkan di langit keenam terdapat surgaAdn. Jika Alloh SWT menghendaki, hamba tersebut akan dinaikkan lagi ke langit paling tinggi, yakni langit ketujuh, disebut juga dengan alam Malakut. Dinamakan malakut karena alam ini adalah tempat bersujudnya para Malaikat kepada Alloh Azza wa Jalla dan di alam ini terdapat surga tertinggi, yakni surga Firdaus.

Dalam surga Firdaus qolbu hamba Alloh yang sholeh ini akan menerima Nur Illahi muth’mainah hingga jiwanya tenang. Dari jiwa-jiwa yang tenang ini terpancar sifat-sifat Alloh yang melahirkan perilaku seperti perilaku Rasululloh SAW, baik ucapan, perbuatan, maupun karakternya. Pada tingkat ini, hamba Alloh tersebut sudah mencapai Marifatul Af’al atau ma’rifatul sifat karena sudah tidak ada sifat tercela di dalam hatinya, yang ada hanya sifat-sifat Alloh. Inilah tingkat paling tinggi bagi umat muslim yang telah mencapai imanan wahtisya’ban dan kaffah dalam menjalankan syariat Islam.

Bagi hamba Alloh yang terpilih untuk menjadi waliyulloh berderajat Guru mursyid (rasydin), yakni sebagai seorang pembaharu atau peneguh iman umat muslim akan dipanggil Alloh menuju Arasy’-Nya dengan panggilan: Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku (QS Al-Fajr:27-29). Panggilan ini memberikan perintah kepada hamba terpilih untuk tidak diam di surga Firdaus melainkan harus terbang menuju Sidratul Muntaha di Alam Lahut, yakni alam tempat bersemayamnya Alloh Azza wa Jalla di atas singgasana ‘Arasy-Nya.

Untuk menuju alam lahut harus mandiri tanpa dibimbing gurunya lagi sesuai dengan uswah Nabi SAW. Ketika Beliau akan menuju alam Lahut tidak lagi dibimbing oleh malaikat Jibril AS karena tidak mampu menuju alam itu. Sedikit saja melangkah ke alam lahut, maka sayap-sayap Malaikat Jibril akan terbakar. Di alam Lahut, hamba terpilih akan memperoleh Rahmat Alloh dan ilmu secara laduni sehingga ilmunya sangat luas tanpa batas sebagaimana firman-Nya: …lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami(QS Al-Kahfi, 65). Inilah puncak tertinggi perjalanan spiritual menuju Alloh Azza wa Jalla, mencapai Ma’rifatul Wujud, yakni melihat Dzat Alloh dengan dengan wajah berseri-seri (QS Al-Qiamah: 22-23) melalui pandangan batinnya di alam Lahut. Jika dibandingkan dengan urat lehernya pun masih dekat kepada Alloh Azza wa Jalla.

Gambaran tentang masing-masing Nur Illahi di atas dinyatakan di dalam Al-Qur’an pada surat An-Nur, 35: Alloh (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Alloh adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus, di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Alloh membimbing kepada cahaya-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Alloh membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat di atas menggambarkan qolbu orang yang beriman diumpamakan sebuah lubang yang tidak tembus, dimana di dalam qolbu itu ada sumber cahaya Illahi (pelita besar) yang energinya sangat dahsyat dan tidak akan pernah padam (energi yang kekal). Sumber cahaya Illahi ini masih dibalut atau diselimuti oleh lapisan-lapisan cahaya yang sangat transparan seperti kaca dan bersinar seperti bintang dengan kemilau bak mutiara yang memiliki tingkat energi berbeda.

Jika diungkapkan secara fisika bolehjadi lapisan-lapisan cahaya di atas mirip dengan struktur atom yang diajukan oleh Bohr, dimana tingkat-tingkat energi elektron atau kulit menyatakan lapisan Nur Illahi tetapi nilai tingkat energinya kebalikan dari model atom Bohr. Di langit pertama terdapat Nur Illahi (cahaya surga pertama) yang energinya paling rendah. Langit pertama ini, jika dianalogikan dengan model atom Bohr menyatakan tingkat energi elektron terluar (n = 7), bukan tingkat energi pertama (n = 1). Pada tingkat energi terluar dihuni oleh elektron sebanyak 2n2, dan memang surga di langit ini banyak penghuninya karena banyak umat muslim yang dapat mencapai derajat ini.

Di langit kedua terdapat Nur Illahi yang energinya lebih tinggi dari Nur Illahi pada langit pertama. Jika dianalogikan dengan model atom Bohr bolehjadi langit kedua ini menyatakan tingkat energi elektron kedua dari luar atau n = 6. Demikian seterusnya sampai langit ke tujuh atau tingkat energi elektron pertama (n = 1) yang maksimal dihuni oleh dua elektron. Hal ini benar karena hanya sedikit umat muslim yang dapat menghuni surga Firdaus. Adapun inti atomnya dapat dianalogikan sebagai pelita besar yang terdapat di alam Lahut, dimana energinya sangat dahsyat. Bandingkan energi yang dihasilkan dari elektron (energi ionisasi) dengan energi yang dihasilkan dari inti atom (energi nuklir) perbedaannya sangat besar. Model lapisan Nur Illahi di atas jika divisualkan dengan model atom Bohr akan tampak seperti pada gambar berikut.

Jika kita ingin mencapai derajat tertinggi di sisi Alloh setelah meninggal dunia (wafat), maka kita harus selalu berusaha untuk mencapai ma’rifatulloh dengan memohom ampunan dan ridho-Nya, sebab apa yang akan kita peroleh setelah mati akan sama dengan apa yang telah kita capai di dunia (tidak kurang, tidak lebih). Jika kita belum sampai ke salah satu Nur Illahi di atas, maka bersiap-siaplah kita untuk masuk ke dalam neraka, di sana kita akan dicuci hingga semua noda dan dosa yang mengotori kita bersih. Jika sudah bersih dan memiliki amal sholeh walaupun sedikit, Insya-Alloh kita akan dimasukkan ke dalam surga karena kasih sayangnya Alloh, tetapi tidak tahu surga yang mana bergantung pada kehendak-Nya.

Apabila pada waktu hidup kita sudah sampai ke salah satu Nur Illahi yang terdapat pada langit tertentu, Insya-Alloh setelah mati kita tidak perlu dicuci lagi di dalam neraka melainkan akan langsung dimasukkan ke dalam surga sesuai dengan Nur-Illahi yang telah kita capai sewaktu hidup. Sekarang tinggal bertanya kepada diri kita masing-masing sudah sampai dimanakah kita dalam beribadah kepada Alloh? Dan Nur Illahi mana yang telah kita miliki? Jika belum mari kita sama-sama berusaha menjalankan semua syariat Islam secara kaffah yang dilandasi dzikrulloh secara ikhlas di dalam qolbu kita masing-masing, semoga Alloh membimbing kita kepada Nur-Nya


Disunting : Agus B adaruddin

1 komentar:

Alhamdulillah... Terima Kasih banyak atas tulisan anda yang berisi petunjuk yang luar biasa ini. Untuk saudara semua sehinga artikel ini bisa dibaca oleh banyak orang Alfatiah...

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites